Read more: http://infosinta.blogspot.com/2012/04/cara-unik-agar-potingan-di-blog-tidak.html#ixzz24oy9BWTE KPOP FANFICTION: Pangeran Kecilku dari Semarang

Kamis, 02 Mei 2013

Pangeran Kecilku dari Semarang

Diposkan oleh Nanda Chan di 05.41



    


    

CREATED BY :      

    
    

    

Pangeran Kecilku dari Semarang
Pagi yang cerah,tiba-tiba mendapatkan  keberuntungan yang kecil yaitu uang jajan tambahan. Hehehe......
Hai namaku Nandiati Putri. Bersekolah di SMKN 18 Jakarta. Kelas X PM 2, yang baru masuk tahun ini. Seperti biasa aku harus menunggu teman berangkatku Laras Setiasih.dalam perjalan ke sekolah . Ternyata, aku salah naik angkot. Sebenarnya bener D01, tapi sopirnya ini loh yang gaswat wat wat. Masa iya dia pagi-pagi dah marah-marah aja, Cuma gara-gara ada anak MTS yang kurang seribu rupiah. Ya, tapi dia berhak marah juga sih!.
                   
Di Sekolah.
Ternyata encing(sebutan nama satpam sekolah kami) sudah menyuruh cepat-cepat. Aku berlari sekuat tenaga dan untungnya masih keburu euy,, alhamdulillah ya, ga jadi di hukum dan dapet point  gara-gara terlambat 10 detik.
“Huuuhhh,,” keluhku. Masa iya tiap hari selasa aku selalu pas-pasan sih datangnya. Udah kelasnya lantai 3 paling pojok lagi. Ckckckck..
“bismillahirrahmani rahim alhamdulillahirabbilalamin.........” anak sekelasku memulai tadarus. Aku langsung berjalan cepat kebangkuku. Aku hanya bisa tersenyum jika ada yang memperhatikanku.
Tidak lama kemudian tadarus  pun selesai.
“eh, eh, tau ga  tadi aku liat cowok ganteng loh di sekat ruang BK” pamer Monika yang daritadi senyamsenyum sendiri.
“iya, aku juga liat, sumpah ganteng banget. Aku rasa mungkin dia bakalan pindah kesini.” Balas Dian.
“semoga aja dia dikelas kita.” Harap Agnes.
“mang siapa sih? Kok aku enggak liat deh!” jawabku dengan penuh keingin tahuan.
“siapa aja boleh” samber Nani.
“pokoknya ganteng, putih, tinggi, dan aku rasa dia anak orkay (orang kaya).” Dian berpendapat.
“maybe??” jawabku dengan berlagak sok tau.
Deng Dung Deng Dung “maaf untuk para siswa yang memulai pelajaran, dan mohon maaf bapak/ibu guru yang sedang mengajar. Pengumuman untu Nandiati Putri X PM 2 ditunggu Bu maulis di ruang BK. Terimakasih.” Suara dari speaker sekolah.
Hadouhhh apa lagi coba? Kok pake ruang BK segala sih!!
“hayo loh Nan, diabisin bu maulis loh!” ledek Agnes.
“apaan sih, nes!”  keluhku.

Arah ruang BK.
Bismillah..
“permisi bu, assalamualaikum.” Tegurku.
“ayo, masuk Nandiati” jawab bu maulis dengan senyuman.
“ada apa bu, ibu memanggil saya.” Jawabkudengan sedikit gelisah.
“oh, tidak apa-apa, ini ada yang ingin bertemu dengamu nan.” Masih tetap tersenyum.
“siapa bu??” tanyaku heran.
“temui saja sendiri, ibu mau mulai mengajar di kelasmu, nan.”

Ruang BK sunyi dan sepi.
“maaf, permisi.” Sapaku perlahan tapi pasti.
 Tiba-tiba yang keluar seorang laki-laki seumuran denganku, seeperti yang digambarkan oleh Dian. Putih, ganteng, tinggi. Hatiku seperti melompat-lompat, saking senangnya aku tidak tahu harus berbicara apa. Kemeja biru, celana hitam, dan gaya rambut seperti dae woong(lee seung gi pemeran tokoh di serial drama korea).
“oh, jadi kamu yang namanya Nandiati itu, atau aku panggil Nanda saja.” Pria itu berlagak sombong. Tangannya kearah daguku. Sambil memiring-niringkan daguku.
“oh, iya aku Nandiati, panggil Nanda juga gapapa. Tapi, kamu siapa? Kok tau namaku!” tercengang.
“aku Rayhan Lorensyah putra bungsu dari kelurga Letnan Pramuji Lorensyah.” Sombong.
“tapi, kok aku ga tau ya! Oh, ya lepaskan tanganmu ini. Dan untuk apa kau mencariku?” bentakku sambil melepaskan tangannya.
“cantik tidak, belagu iya. Hmmm mending cewekku yang ada di Bandung dah!” meremehkanku.
“oh, sekarepmu lah. Aku memang tidak cantik, tapi hatiku lebih cantik daripada kau.” Balasku.
“keren juga nih cewek. Baru kali ini ada cewek yang berani bentak aku. Aku kesini, disuruh ayahku untuk bertemu kau. Kata dia , kita berdua dijodohkan sewaktu masih bayi dan kata dia juga aku harus 1 sekolah denganmu. Dan dia juga bilang sementara ini aku disuruh menginap dirumahmuu kalau kita dijodohkan?? Dan kau selama 2 hari.” Jawabnya panjang lebar.
Aku tercengang mendengar perkataannya itu. Ganteng sih ganteng tapi sifatnya jelek amat yah!.
“terus, kau mau kalau kita dijodohkan?” tanyaku dengan gugup.
“ aku sih ga mau lah, mending juga dijodohin ama pacarku yang ada di Bandung.”
“yaudahlah terserah, aku ga ikuttan. Sekarang aku mau ke kelas. Kau mau ikut?” ajakku dengan sedikit jengkel atas perkataannya itu.
“oh, baiklah.ladies i’m coming.” Jawabnya dengan belagu.

Di kelas .
“permisi bu”
“ya, silahkan masuk. Nan.” Bu malis.
Semua anak memandangku, bukan bukan bukan, bukan memandangku tetapi memandang Rayhan calon suamiku. Jiahhh.. seluruh anak dikelas menatap kami berdua dengan penuh tanda tanya. Mungkin Rayhan bakalan jadi orang populer melebihi Ka Reno.
“maaf bu, saya memakai baju ini. Tetapi saya mau lihat cara pengajaran di sekolah ini. Jadi, mohon izinkan saya untuk mengikuti pelajaran anda, saya sudah menghadap ke kepala sekolah dan beliau tidak keberatan”  jelasnya panjang lebar.
“oh, baiklah. Kamu duduk di samping samsul”. Bu maulis dengan ramah menyuruh Rayhan duduk.
“terimakasih, bu” senyum maut Rayhan dikeluarkan.
“Hwaaaa....” kaguman para siswi dikelas melihat senyuman mautnya Rayhan.
Mulailah kembali pelajaran.

“siapa nan?” tanya agnes.
“rayhan” jawabku dengan santai.
“siapa kamu? Sodara” tanya kembali agnes.
“entahlah. Dah ah aku mau dengerin bu maulis.” Aku mengalihkan pembicaraan.

Tettttttetttt... bel pelajaran pertama selesai.
Semua anak perempuan mulai heboh sendiri memerhatikan Rayhan. Sedangkan Agnes hanya senyam-senyum melihat wajah rupawannya Rayhan. Tiba-tiba Rayhan berdiri di depan kelas. Dengan gagah dia memperkenalkan diri.
“Hay, semua nama saya Rayhan Lorensyah
Saya pindahan dari Bandung . salam  kenal.” Sapa rehan
“hay juga” sapa Vanny, Agnes, Monika, Nurul, Shintia dan Amel suara mereka yang begitu keras.
Rayhan kembali ketempat duduknya dengan sikapnya yang dingin. Anehh?! Pikrku. Tadi di ruang BK dia bersikap angkuhnya tetapi kenapa dikelas jadi pendiam gitu.
“Bismillah 3 kali, bisa kali. Bismillah makan tape, bisa kali nomor hape.” Teriak Vanny.
“apaan sih gaje banget” batinku dengan sedikit cemburu.
Kukira dia bakalan cuek, eh ternyata malah ditanggepin dengan senyuman. Parah parah parah.

Istirahat pertama
“Hhhhh,,, bisa-bisanya ini hari aku kena sial sedahsyat ini. Mimpi apa ya tadi malem??” pikirku.
Didalam kelas hanya ada kehebohan. Yang biasanya kelas Xpm2 setengah sunyi, menjadi riuh gara-gara anak baru itu. Semua anak teragum melihat ketampanannya. Banyak anak dari kelas lain ikut-ikutan kekelasku juga demi Rayhan. Emang sih mukanya setampan pangeran tapi hatinya beuhh ada 2.
Ketika aku ingin kembali kekelas, tempatku diduduki anak dari kelas lain terpaksa aku hanya bisa mengeluh.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang seorang pria setampan dae woong sambil menebarkan senyuman. Aku hampir saja terlarut dengan senyumannya itu. Tetapi aku tersadar bahwa itu hanya palsu, bohongan yang istilahnya dengan kata bulsyit.
“maukah kau mengantarkan aku keliling sekolah ini” pintanya dengan lembut.
“y.. ya!” jawabku dengan gugup, semua anak perempuan menatapku sinis. “Tapiii...”
“gimana kalau denganku saja, lebih seru loh!!” sambar Vanny segera ia menghampiri Rayhan.
“ahh, tidak usah aku ingin bersama Nandiati saja. Terima kasih ya.” Balasnya dengan senyum lagiii.
Aku dan Rayhan menuruni tangga. Hampir setiap anak perempuan memandangi Rayhan aku hanya bisa diam sambil menunduk. Lalu kutarik dia kepojokkan ke tempat yang menurutku agak sepi.
“Hay, kau! Kau punya berapa kepribadian sih! Pakai segala tebar pesona ke hadapan cewek-cewek dikelas lagi. Sekarang aku mau ke perpustakaan saja. Kau terserah mau ikut atau tidak itu urusanmu.” Jelasku.
“Ssttt... bisa tidak kamu jangan banyak bicara. Urusan ini kita selesaikan nanti. OK.” Jelasnya.
Hhh,, belagu banget sih itu orang, semoga aja waktu mama ngeliat dia langsung diusir dah!

Bel masuk pelajaran terakhir.
“sudah ya kita akhiri pelajaran hari ini dengan alhamdulillah” terang Bu Isti wali kelas kami.
Ketika bu Isti keluar, seperti biasa kelas menjadi ramai kembali . Vanny langsung menyuruh samsul untuk pindah ketempatnya untuk beberapa menit.
“Rayhan, pulang sekolah ini kita jalan-jalan ya! Kamu kan orang Bandung, jadi pasti kamu ga tau seluk beluk tentang Jakarta donk! Aku tau kok  tempat yang asik buat nongkrong.” Vanny panjang lebar.
“maaf, tapi hari ini aku sedang lelah.” Jawabnya dengan sedikit lemas.
“Mmm, boleh minta no HP kamu ga??” pinta Vanny dengan gaya andalannya.
“yah, maaf  aku belum beli kartu baru yang khusus Jakarta.” Jawabnya dengan senyum lagi dan lagi.
“oh, yaudah deh! See you”  vanny beranjak pergi sambil kegirangan bisa berbicara dengan pria tampan itu. Aku rasa anak perempuan dikelas merasa iri pada vanny.
“eh, bilang Laras kalau aku pulang duluan. Ada urusan mendadak.” Pesan singkat yang kutitipkan oleh Romise.
Bel pulang.
Di rumah..

“Aduhh, harus bilang apa nih ke Mama kalau dia ngeliat cowok gaje(Ga Jelas) ini” batinku.
“Assalamualaikum” teriakku dari luar rumah tapi tak ada jawaban,
“Asssalamualaikumm..” bantu Rayhan.
Aku langsung melangkah masuk ternyata Mama lagi tak ada dirumah. Aku langsung kekamar dan menutup pintu. Ku biarkan Rayhan sendiri di ruang tamu. Setelah selesai ganti baju aku mendekati Rayhan.
“mau makan?” tanyaku sedikit jutek.
“tidak usah, terimakasih.” Jawabnya dengan lembut.
“yasudah”.
Tiba-tiba Mama datang lewat pintu belakang rumah, ia menghampiri kami berdua yang sedang menonton TV.
“eh, ada Rayhan. Kapan datang?  Dah makan? Tadi, ayahmu juga menelpon. Katanya kamu mau pindah kesini ya.” Tanya mama panjang lebar.
“Mama kenal dia?” tanyaku heran.
“ya, kenal lah. Ini kan Rayhan teman kecil kamu waktu tinggal di Semarang. Rayhan anaknya pak Lorensyah.. masa kamu gak ingat sih? Mama kira kamu dah kenal.”
Aku makin bingung atas jawaban mama, tentang teman kecil dan Semarang. Sedangkan Lorensyah orang Bandung.
“Iya, Rayhan mau pindah disini, katanya papa dimutasikan ke Jakarta. Jadi, kami sementara akan tinggal di Jakarta hanya beberapa bulan.” Jawabnya dengan sopan.
“iya, tante juga dengar dari Ibu kamu, dia bilang kamu sekeluarga akan menetap di Jakarta untuk sementara. Kapan ayah kamu kesini?? Kamu udah bawa baju untuk menginapkan?” tanya mama.
“Hari Kamis tante, Rayhan udah bawa baju beberapa kok. Yang lainnya nyusul bareng mama.”
“Oh, yaudah kalian makan dulu sana. Tante mau kebelakang dulu.”.
“ya, terimakasih tante.”

Ruang makan.
“Rayhan, aku bingung deh apa yang tadi kalian bicarakan. Bukannya kamu bilang kamu dari Bandung ya? Dan bukannya kamu bilang kesini untuk dijodohkan?” tanyaku.
“dah makan dulu. Ga baik makan sambil bicara.”
Hhh.. ada yang aneh nih!!

Malam Hari
“Haduhh, gambarnya susah banget lagi. Apusan donk!” pintaku ke Abel.
“Sini aku bantu gambarin.” Rayhan mengambil buku gambarku.
“Rayhan, aku masih enggak ngerti nih!” omelku.
“soal yang mana? Nomer berapa?”  tanya Rayhan.
“Bukan tentang pelajaran tentang kamu yang tadi sore itu.”jawabku dengan mengeluh.
“jadi, kamu masih ga tau. Perlu aku bantu untuk mengingatkanya?” Rayhan menatapku dengan senyuman mautnya.
“Mmmm.. iya!” jawabku dengan sedikit gugup.
“waktu kecil kita sering bersama ke kebun pak Suryo untuk mengambil kacang-kacang. Aku selalu dituntunmu ketika ke kebun itu. Kau selalu bersemangat ketika bertualang. Kau selalu berada disampingku ketika ayah dan ibuku tidak ada dirumah. Apa kau sudah mengingatnya?”
“Aku ingat kejadian itu. Tapi aku tidak begitu ingat.. Ceritakan yang lain.”
“Ketika ayah dan ibuku tak ada dirumah aku sering menginap dirumahmu. Kita setiap malam melihat bintang-bintang yang bertebaran. Lalu, kadang kau juga menginap dirumahku. Dan dulu kita mempunyai rumah pohon yang berada didekat ladang. RAYNA HOUSE itu adalah nama rumah pohon yang kau beri.” Jelasnya.
Mmmm.. aku berfikir sejenak aku tau nama itu. Oh tidak, aku ingat aku ingat. Itu adalah rumah pohon yang aku buat dengan Raray kecil. Raray pangeran kecilku. Tapi.. kenapa dia tau semua itu. Atau dia jangan-jangan Raray kecil itu. Raray=Rayhan.
“jangan-jangan kamu ...”
“ya, aku Raray kecil yang selalu ketakutan ketika ke kebun.” Jawabnya dengan santai.
“Benarkah kau Raray kecil. Tapi, Raray kan tinggal di Semarang bukan di Bandung. Dan Raray tidak berkepribadian ganda. Dia juga tidak sombong seperti kau.” Jawabku dengan belagu.
“Baiklah bagaimana kalau ini, pasti kau tidak akan percaya.” Tiba-tiba dia menarik tangan ku lalu mencium pipiku. Muachh,, kau ingat ciuman pangeran kecil Raray kan. Bisiknya perlahan.
Hwuaa,, aku terjatuh di pelukannya Rayhan, tapi ia hanya tersenyum. Aku sadar bahwa ia benar-benar Raray kecil. Raray sang pangeran kecilku
“tapi, kau bilang kau orang Bandung.” Pipiku merona memerah seperti buah strawberry.
“Hehehe,, sebenarnya aku berbohong. Aku hanya ingin mengerjai dirimu. Kau lucu sih kalau sedang marah.” Jawabnya dengan tawa geli.
“jadii,, semua itu bohong?” tanyaku.
“yupz, begitulah! Hay, Nanda sang putri kecilku. Apa kabar?” senyuman itu kembali muncul di wajahnya.
“Hahhhh, aku tertipu. Nyebelin nyebelin nyebelin ahh. Ga lucu tau. Parah nih!” Aku menepuk-nepuk pundaknya. Aku menghujani pukulan kepundaknya. Sambil meneteskan air mata. Sebuah kerinduan dari sebuah kenangan sekarang menghampiriku dengan tiba-tiba iya, tersennyum. Lalu dia memelukku erat. Dan dia berbisik ke telingaku. “selama 9 tahun aku selalu mencarimu. Aku rindu tau denganmu apa kau juga begitu rindu aku?” bisiknya. Aku hanya tersenyum.


Pagi hari.
“Rayhan cepat, nanti terlambat nih!” teriakku.
“ya, sebentar.” Rayhan keluar kamar dengan baju sekolahnya yang baru.
“Ma, Nanda berangkat ya! Assalamualaikum”
“Eh, sarapan dulu.”
“udah, bawa bekal kok.” Teriakku sambil menarik tangan Rayhan sang pangeran.

Di Sekolah
“Nan aku lapar nih! Tadi, disuruh sarapan dulu juga.” Keluhnya.
“maaf, ya pangeran Raray soalnya tadi aku lagi buru-buru.”
“Hadohhh.. perutku lapar. Jadi lemas nih!” dia mengeluh sambil menarik tanganku kegenggamannya.
“Hhh, dasar pangeran ga pernah berubah ya selalu genggamin tanganku melulu.” Jawabku dengan canda.

Depan kelas.
Aku melepas tangan Ray agar anak-anak sekelas tidak ada yang curiga. Aku bersikap seperti biasa. Lalu, sedangkan Ray kembali menjadi cowok cool. Aku dan Ray menjaga rahasia ini baik-baik. Dari awal pelajarn sampai pulang sekolah aku dan Rayhan berpura-pura seperti biasa. Sebenarnya, aku tidak mau seperti itu. Aku takut Rayhan bisa jatuh ke tangan perempuan lain.
     “Ray, kamu udah punya pacar belom?” tanya Vanny.
     “udah” jawab Ray dengan santai. Aku dan cewek-cewek lainnya tersentak.
“si.. siapa? Anak mana?” tanya Vanny dengan sedikit kecewa.
“Mmmm..” dia menengok ke arahku. “seorang gadis biasa, yang sedikit bawel, dan lucu. Dia..”. jawabannya terhenti ketika ada guru datang kekelas. “ Jangan- jangan aku lagi” pikirku. Tapi, Rayhan kan udah punya pacar di Bandung. Mungkin dia.
Pulang Sekolah.
“Ray, aku mau tanya sesuatu.” Tanyaku dengan lesu.
“tanya aja?” jawab Ray.
Aku dan ia berhenti disebuah taman kecil dekat sekolahan kami.
“pacar yang kamu bilang di Bandung itu. Apakah kau masih berhubungan dengannya?” tanyaku.
“iya, aku masih sering kontak-kontakkan ko dengannya.” Jawabnya dengan lebih santai.
“oooooooo” aku ber O panjang dengan sedikit menyesal menanyakan hal itu.
“Mmmmm kau suka padaku ya?” tanya Ray.
“Ha? Tidaklah. Aku juga dah punya pacar kok.” Aku terbelalak.
“Aku tau kau berbohong. Aku tau kau suka kan padaku.” Dia menggodaku.
Aku hanya diam sambil berjalan ke arah bangku taman. Rayhan menarik tanganku lalu, menarikku ke arah kolam ikan yang tak jauh dari taman.
“Nan, sebenarnya aku..” bisik Ray perlahan. “ AKU BERBOHONG KOK TENTANG PACARKU YANG ADA DI BANDUNG. Hahahaha..” teriak Ray.
“RAYHANNNNNN... AWAS KAU RAY. KU HABISI KAU.”  Aku berlari mengejarnya. Dan ia tertangkap.
“Aww, sakit” Ray kesakitan mendapat beberapa cubitan dan pukulan dariku.
“biarin weekk. Kau sih usil banget.” Ledekku.
“Aduhh, Nan beneran sakit banget nih! Aduuhh” rintih Rayhan.
“ahh, bohong aja juga.” Cuek.
“beneran Nan. Aww. Sakitt” Ray pingsan.
“Ray.. Rayhan, Rayhan ga lucu bangun donk!”
Cupppmuach. . sebuah kecupan mendarat  di pipi kananku. Ray kembali berlari.
“Ray.. benar-benar kau ya!” Aku tercengang, kaget, dan senang. I’m falling in love with him. I love my prince.
Rumah.
“Ray, besok kamu pindah ke daerah mana? Jauh dari rumah aku ga?” tanyaku.
“Entahlah, kenapa?” tanya balik Ray.
“Gapapa, nanya aja.” Jawabku.
“kamu ga ingin aku pergi ya?”
“yee, siapa bilang, aku malah kegirangan kamu pindah kok!”
“yakin? Tapi wajah kamu kurang meyakinkan tuh kalau kau merelakan aku pergi.”
“ yakin lah. terserah deh!”

“Rayhan.. ada telpon dari ayahmu nih!” panggil mama.
“baik, tante.”
Sebenarnya aku tak rela jika ia pergi. Tapi, aku tidak berhak untuk mengekangnya. Hhh,, apa aku harus jujur saja kepada Ray supaya dia tidak pindah hari esok. Tapi, bukannya bagus kalau ia tidak ada disini, aku jadi tidak perlu menunggunya tiap pagi.  Aku Bingung nih!!
Azan magrib berkumandang. Kami segera melaksanakan shalat magrib.

KAMIS PAGI.
“Hoamm,, aduh masih ngantuk nih!”
“ sepi, juga ya ga ada Rayhan dirumah.” Pikirku sembaring ke arah kamar mandi.
“Hayoooo.... Kamu kangen aku ya!” suara Ray mengkagetkanku.
“Hwwaa.. apaan sih Ray bikin orang jantungan aja! Kamu bukannya pindah kemaren malam ya?” kaget.
“Lah, kata siapa? Buktinya aku ada di depan kamu.”
“trus, tadi malam kamu kemana? Pake bawa tas ransel? Dan bukannya ayah kamu dah datang ya!” tanyaku.
“oh, itu aku  ke rumah Samsyul. Aku kesana diajak belajar bersama. Ada Vanny, oki, monika, juga kok. Kemaren aku mau ngajak kamu. Eh, kamu keliatannya lagi sibuk yaudah aku ga jadi ngajak kamu.” Jawabnya panjang lebar.
“Trus ayah kamu ngapain nelpon?”
“dia bilang katanya hari Minggu baru bisa kesini. Soalnya, masih banyak urusan di Semarang.”
“Benarkah?” tanyaku dengan girang.
“Benar.” Jawabnya heran.
Tanpa sadar aku memeluknya, tanpa sadar aku langsung memegang pergelangan tangannya sambil berputar-putar. Lalalala hatiku benar-benar gembira mendengar berita sebaik ini. Lagu Losing My Mind_ lee seung gi bermain dengan sedikit acoustic di otakku. Ooooo ya! Ahh tunggu dulu ada apa denganku? Stop! Stop! Stop!
“Maaf, aku harus segera mandi. Minggir donk!” bentakku. Sambil melepaskan tangan Raray.
Aduhh, kok aku jadi reflek gitu sih! Gimana nanti di sekolah nih? Pasti iya bakalan mikir yang aneh-aneh nih! Parah Parah Parah.

Sekolah.
“Hhhh,, untung dia bersikap seperti biasa.”
“Nan, liat Vanny deh. kayanya dia udah mulai deket sama Rayhan tuh!” Agnes menunjuk ke arah Vanny
“Ooh, biarin aja itu hak Rayhan kok mau ngobrol sama siapa aja. Pokonya itu urusannya dia.”
“mau ke perpus?” ajakku ke Agnes.
“enggak ahh males.”
“pengumuman besok diliburkan karena para guru ingin rapat.” Ketua kelas memberikan pengumuman. Anak-anak bersorak sorai kegirangan.
“Nanda. . . mau kemana?aku ikut donk!” Panggil Rayhan.
“Ke ruang Perputakaan. Mau ikut?” semoga aja dia ga mau. Batinku. “iya aku ikut” jawab Ray.
“Apa? Kenapa dia mau sih! Huh. Seharusnya tidak ku ajak tadi”. Harusnya tidak usah kuajak tadi. Hhh batinku menyesal.
Rumah Malam hari.
“Nan, keluar yuk!” ajak Rayhan.
“kemana?” tanyaku.
“jalan aja cari angin. Besok libur ini kan”.
“baiklah, tunggu sebentar. Ma... Nanda ma Rayhan keluar ya.”
“kemana? Besok sekolah kan?” tanya mama.
“jalan-jalan aja. Besok libur kok.”
“yaudah, jangan mala-malam ya!”
“sip Mom.”

Lapangan Bola.
“Nan, duduk disini dulu yuk! Suasananya bagus nih!”
“Apanya yang bagus? Serem, sunyi, gelap gini juga. Pulang yuk! Bulu kudukku berdiri nih!” ajakku.
“Enggak ah! Kita disini dulu. Ayoo ikut.” Ajak Ray.
“Huhhh..” aku pasrah.

“Nan, coba lihat ke atas deh!”
Perlahan aku mendongak ke atas. Woww, bintang-bintang bertaburan sangat indah. Romantis banget suasananya. Rayhan aku makin suka kamu nih! Aduhh, hati aku ga karuan nih!.
“Woy, nan jangan bengong donk!”
“hehehe, abisnya indah banget sih!”
“kamu masih inget waktu kecil kita selalu tiduran di halaman bela-belain buat liat bintang”
“iya, aku inget kok.” Seandainya waktu berhenti aku ingin seperti ini terus Ray.
Pagi hari.
“Ayoo, semua bangun-bangun. Hari ini kita picnik” teriak mama.
“aduhh, kenapa mendadak seperti ini sih! Males ah!” keluhku.
“Nanda, bangun!” bujuk Abel.
“iya-iya bentar donk!”
Aku beranjak dari tempat tidurku. Dan menuju ke arah kamar mandi. Ternyata papa, mama, abel dan Ray sudah pada siap-siap. Dan ada Nisa juga. Kok, aku ga tau sih tentang rencana Picnik sih!.

Perjalanan
Mama dan papa di depan. Sedangkan abel di ditengah bersama Nisa (sepupu kami). Aku duduk dibelakang dengan Rayhan.
“Ma, kita mau kemana sih?” tanyaku.
“maunya? Pantai atau tempat perkemahan?” tanya balik mama.
“kok, mama nanya balik. Serius nih!”
“mama, ga tau soalnya mama Cuma diajak sama seseorang. Katanya tempatnya bagus banget.”
Hhhh, kita sebenarnya mau kemana sih!

“Nan, bete nih!” bisik Ray.
“aku juga.”
“Dengerin lagu aja yuk!”
“yah, musik di HP aku kebnyakan korea and yang aku yakin kamu ga suka.”
“gapapa kok.”
“Yaudah.” So sweet. Kami berdekatan agar earphone yang kita pakai tidak putus.
“Ray aku mau tanya donk!”
“Apa?”
“kenapa kamu ga kasih no HP kamu ke Vanny?” tanyaku dengan gugup.
“memangnya kamu mau, kalau aku kasih nomer aku ke Vanny?” tanya balik Ray.
“enggak mau lah. tapi, alasan kamu nolak ga kasih tau no kamu ke dia apa?” jawabku santai.
“Mmmm,, kamu pasti tau jawabannya kok.” Rayhan langsung mengeluarkan senyuman mautnya.
Tiba-tiba Rayhan menggenggam tanganku, lalu tidur di pundakku. Rayhan kamu kok manis banget sih kalau lagi tidur. Huhh, pantesan kalu anak cewek liat kamu pasti pada heboh sendiri. Kamu ganteng banget sih! Haha pangeran dari Semarang.
“Raray, kamu tidur beneran ya?”
Tak ada jawaban.
“Raray, kamu kok ganteng banget sih dah gitu baik. Tapi, sayang banget ya kamu dah punya pacar. Seandainya kita beneran dijodohin, aku sih gapapa soalnya sama kamu. Walaupun kamu hanya anggep aku Cuma sekadar teman kecil aku. Tapi, aku senang banget udah bisa ketemu kamu lagi. Hehehe.. jadi, inget waktu kecil dulu.” Bisikku. Kira-kira Ray dengar ga ya? Tapi, dia kan lagi tidur pulas.

Tempat tujuan.
“Nan, bangun dah sampe nih! Kaki aku pegel tau.” Bisik Rayhan ditelingaku.
“Mmmm.. hoamm. Udah sampe ya?” tanyaku.
“iya, nih baru sampe.”
“Mmm.. Hwaa.. kok aku jadi tidur di pangkuan Ray sih! Bukannya tadi Ray yang tidur ya?” Kaget.
“Ha? Udah ah nanti aja bahasnya, kita keluar dulu sumpek nih!”
“dih, kok jadi aneh gini. Jangan-jangan tadi aku bermimpi lagi.”

Perkemahan
“Hwaaa.. sejuk banget. Pohonnya juga rindang-rindang. Nyaman banget tempat ini”. Kataku sambil mengagumi sekitar.
Dari kejauhan ada seseorang ibu-ibu melambaikan tangannya ke kami.
“Ibu..” teriak Rayhan. Sambil melambaikan tangannya.
“Itu mamanya Rayhan ayo kita susul.” Ajak Papa.

“Hay,, Nanda! Sekarang kamu sudah besar ya! Tinggi dan cantik lagi.” Ibu Rayhan memelukku.
“oo hay tante” sapaku sambil membalas pelukannya.
“mana suamimu?” tanya papa.
“Oh, dia lagi mencari kayu bakar. Bentar lagi juga ia balik. Oh, ya! Maaf sudah merepotkan selama Rayhan tinggal disana.”
“Oh, engga kok!” jawab mama.
“maksud mama enggak salah lagi ngeropotinnya kan?? Hahahaha” ledekku. Aku, abel, nisa, dan tante tertawa.
“Nandaa awas kamu ya!” wajah Rayhan kesal.
“weee :P sini kalau bisa tangkap aku.” Ledekkuku ke Rayhan sambil berlari.

Waktu aku berlari tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Ternyata bapak-bapak dengan tubuhnya yang gagah seperti tentara. Ia membawa tumpukan ranting.
“Ma.. maaf.. om aku tidak sengaja.”
“ahh, tidak apa-apa kamu bisa berdiri sendiri? Sini saya bantu.”
“Hahaha kualat tuh makanya jangan suka ledekkin orang! Akhirnya kena batunya kan.” Ejek Rayhan.
“Rayhan kamu ga boleh begitu, bikin malu saja. Cepat bantu gadis manis ini.” Bentaknya kepada Rayhan.
“ayah? Ah, siap yah!”Rayhan membantuku berdiri. “A..aa. A yah?” tanya ku sambil tergagap.
“ Ayo Nan kubantu berdiri. Itu kan ayahku kau lupa?.”
“ bukannya ayah kamu dulu ada kumisnya ya?” tanyaku.
“memang tapi itu dulu. Sekarang dia jadi tampan kan?”
“i..i..iiya maaf ya om.”
“Iya, gapapa kok. Boleh saya tau nama kamu siapa? Pacarnya Rayhan ya?” tanya nya.
“Ahh, ayah ini Nanda yah. Masa ayah ga kenal, ibu saja langsung mengenalnya yah!” jawab Rayhan.
“iya, saya Nanda. Salam kenal.”
“Nanda? Nanda?” mengingat-ingtat sesuatu.
“Iya, ayah NANDA.”
“Ohh, ya! Nanda kecil yang selalu ngajak kamu ke kebun itu. Dan selalu ikut ayah memancing ikan?” ayah Ray mengingatnya.
“Iya, om itu saya.”
“Wahh, kamu sudah besar ya! Manis sekali kamu.”
“oh, makasih om. Om juga tambah tampan.”
“Ahh, kamu bisa aja. Dah yuk kita susul mereka semua.” Ajak om.
“Eh, nanti malam kita 1 tenda kan?” tanya  Rayhan.
“Yee,, pengen banget. Sih! Aku sih ogah weee.. :P”
“ayolah!”
Malam Hari.
Suasana malam yang dingin dan sejuk menjadi hangat oleh api unggun dan kehangatan kita bersama. Mama memotong sosis untuk kita bakar dan tante sedang memasak air panas. Sedangkan abel bermain dengan Nisa, Ayah dan Om bermain catur. Rayhan...mmm dia bermain gitar di depan tendanya.
“Raray.. lagi apa?” tanyaku sambil berjalan menuju ke arahnya.
“Lagi main gitar, Nanda mau coba?” tanya Ray.
“Eh, aku engga bisa. Rayhan, aja yang main aku dengerin.”
“yaudah, mau request lagu apa?”
“apa ya? Terserah deh!”
“Fall For You dari  Second Serenade.”
“sipp.”
“Ayo semua kita mulai acara bakar-bakarnya.” ajak Mama.
Kami semua makan dengan lahapnya. Dalam beberapa menit  ayah Ray sudah KO. Lalu, disusul Nisa dan Mama. Dan seterunya sampai aku dan Rayhan yang bisa memaknnya sampai habis. Ketika aku dan Ray sedang asik makan, Papa dan ayahnya Rayhan berbicara mengetahui sesuatu tentang kepindahannya.
“sudah menemukan rumahnya, pak?” tanya papa.
“sudah!keadaan rumah udah rapi.  Tinggal ditempetin langsung aja. Ayo sering-sering main ya!” Ayah Ray menepuk bahu papa.
Pikiranku mulai kacau, jika Rayhan tidak tinggal dirumahku. Pasti, ia bakalan punya teman perempuan. Aduhh! Ray kan ganteng pasti aku bakalan kesaing sama cewek lain nih!
Tengah malam.
“Aduhh, ga bisa tidur nih!” aku menuju keluar tenda.
“api unggunnya kok belum dipadamkan sih! Jangan-jangan masih ada orang diluar.”

“RAY?? Ngapain kamu disitu, belum tidur?”.
“Keliatannya udah belom? Sini donk temenin aku, say.”
“Jiahhhh, Say?? Kamu kok belum tidur?”
“Lah kamu sendiri kenapa belum tidur?”
“Malah balik nanya. Aku enggak bisa tidur nih!”
“Pasti kepikiran tentang yang ayahku bicarakan tadi ya?”
“Dihh! Bukanlah aku ga bisa tidur tuh gara-gara ...” menghela napas. “gara-gara aku takut gelap”.
“Oowh. Yaudah sini say sama aku aja! Aku temenin sampe pagi.” Genit Rayhan.
“Say? Apaan sih genit amat! Kamu sebenarnya punya kepribadian berapa sih, aneh banget?”
“berapa ya? Mungkin 10?”
“Hmmm, pantesan tiap waktu berubah-rubah melulu sih! Hahahaha.. aku boleh duduk disitu ga?”
“Boleh donk! Masa buat pembantu sendiri ga boleh!”
“Rayhannn. Ihhh”. mencubit tangannya. “Awww.. iya-iya ampun deh nan!”
Srrkkkk Srkkkkkk Srkkkkkk
“Bunyi apaan tuh?” suasana menegang.
“Ga tau. Waahh apaan tuh gerak-gerak kearah sini!” tunjuk Rayhan.
“Ahh,, apaan sih? Ga lucu han.”
“bukan aku, tau. Jelas-jelas aku disamping kamu.” Jelas Rayhan.
Tiba-tiba ada sesuatu dari balik sema-semak yang bergerak sendiri. Keluarlah . . .
“Hwaaa..” teriakku yang terbangun oleh mimpi.
Apa mimpi? Aneh? Kukira tadi perasaan masih sama Rayhan kok.
“Eummm,, Ma, pa, Tante, Om? Pada kemana sih?” panggilku.
“Nisa, bangun donk!”
“aduhh, males ah!”
“Huftt!” keluhku.
“Hhhhh..” Menarik napas pajang-panjang. “Huhouhh.. Rayhan. Buka tendanya donk! Anterin aku.”
Tak ada jawaban.
“Rayhan aku buka ya!”
Tiba- tiba Rayhan menarik tanganku dan aku terjatuh di pelukannya. Wajah kami sangat berdekat.
Sungai
“Wahh, segar sekali airnya.” Aku membasuh wajahku.
“Ayo, kita memancing!” ajak ayah Rayhan.
“Ayo!!” seruku.
Kami semua memancing kecuali Ibu, Aku, dan kalian pasti tahu satu lagi siapa yaitu Ibu Rayhan (Hahaha.. pasti kalian mengira Rayhan kan? Salah!).
“Rayhan, pinjem donk! Gantian.”
“Nih, tapi cium dulu.” Ledeknya. Mereka semua tertawa.
“iya, nanti aku cium.”
“beneran?”
“iya! Tapi pake ikan mas ya nyiumnya biar puas. Hahaha.”
“Yahh, kirain beneran.” Keluh Rayhan “Tante, Rayhan boleh ga jadi menantu tante?” tanya Rayke mama.
“Tentu donk! Bukannya waktu kalian kecil ayah kalian menjodohkan kalian ya? Ayahmu ga ngomong?”
“Ngomong, tapi aku kira bercanda.  Jadi, aku boleh donk pacaran ma dia.”
“Tentu. Tapi, Nandanya mau atau enggak itu urusan kalian berdua.”
“Asik-asik dah! Thank you tante.” Mama dan tante hanya tersenyum
“ Apaan sih Ray?” kataku menyer ngitkan dahi.

Persiapan Pulang.
“Nanda, Mau ke mana,?”. Tanya mama.
“ke sungai sebentar.”
“awas nanti kamu kebawa arus, Rayhan tolong donk jagain Nanda sebentar.” Suruh mama.
“Sipp tante.”
Huahh,, kita akhirnya berpisah juga. Walaupun masih bisa ketemu di sekolah tapi ad yang kurang. Atau aku harus jujur kalau aku bilang suka aja ke dia. Pasti dia bakalan nolak lah, secara udah punya pacar dibandung. Aduhhh,, ribet bener sih!.
“Nan.. jangan bengong donk”
“Ah,, iya. Enggak kok.” Aku terbangun dari lamunanku.
“Kamu enggak pengen kita pisah ya?” tanya Ray
“yee, kata siapa GR kamu.”
“Aww,, sakit.”  Kakiku terjepit batu dipinggiran
“Aduhh kamu sih jalan ga ati-ati. Sini aku bantuin.” Rayhan mengambil batu dengan hati-hati.
“Makasih ya Raray. Aduh, perih banget nih!” Kakiku berdarah dan sedikit lecet.
“Aku ke tenda dulu ya, ngambil obat.”
“Ray, tunggu. Jangan tinggalin aku”. Kataku sambil mengeluarkan air mata.
“Kok, kamu nangis sih!” Ray mengusap air mataku. “Sakit banget ya! Aku gendong ya!”
“Enggak, aku enggak mau sendiri Ray.”
“Aku kan ke tenda doank! Kamu mau ikut? Sini aku gendong”.
“Bukan. Hiks hiks. Aku ga mau kamu pergi Rayhan” kataku sambil menggenggam tangannya.
“Iya, iya aku disini kok!”
“Iihh, maksud aku kamu ..” mengambil napas. “kamu kamu jangan pergi.”
“Aku enggak kemana-mana kok.” Ray memelukku sambil mengusap-usap kepalaku.
“Rayhan, itu mmm”
“ Apa?” tanyanya dengan lembut.
“Aduh bilang engga ya?” pikirku dalam hati. “itu Ray, aku aku aku....”
“Aku juga kok” rayhan menatapku.
“Emangnya kamu tau aku mau ngomong apa?” sambil mengusap air mataku.
“Yes, i know.”
“What?”
“ mmm I LOVE YOU kan?”
“ dihh. Bukan aku mau bilang kalau aku mau digendong.”
“Hahhh, kirain mau bilang itu”. Rayhan langsung membopongku dibelakang.
“Ray, tadi sebenarnya aku juga mau bilang itu sih!” bisikku.
“Mmm aku udah tau kok, kalau kamu suka aku.”
“Kapan? Kok bisa?”
“Waktu di mobil sama waktu malam-malam itu.”
“Jadi, kamu ga tidur? Dan itu juga aku ga mimpi donk!.”
“Yupz.”
“ Tapi, kok aku bisa ada di dalam tenda.”
“ Aku yang gendong kamu, tiba-tiba kamu tidur dipundak aku. Trus, aku gendong aja ke tenda.”
“Tapi..”
“Tapi, apa lagi” tanya Ray sambil menurunkan aku.
“Tapi, pacar kamu yang di Bandung gimana? Aku enggak mau lah jadi perusak hubungan orang.”
“Ha? Kamu masih percaya? Kan waktu di taman aku bilang kalau itu bohongan.” Ray mengusap kepalaku.
“Jadi, aku boleh donk jadi pacar kamu Ray?”
“Enggak!”
“Yah, kenapa?”
“Enggak. Maksud aku aku ga bisa nolak.”
“Yang bener?” tanyaku untuk meyakinkan. “iya sayangg”
Pulang.
“Tante, aku boleh enggak main ke rumah tante?”
“Boleh donk! Malah Tante udah siapin kamar khusu buat kamu.”
“Beneran tan?”
“ Iyaa” jawbnya dengan anggukan. “ Makasih ya Tante.”
“Ma, Nanda nginep ya di rumahnya Rayhann ya! please.”
“Ehh, jangan! Nanti mamanya Rayhan keropotan.”
“Please mama. Boleh ya?”
“Iya, tante izin’in Nanda ya! Kan nanti Nanda bakalan jadi mantunya Ibu.”
“Yaudah iya-iya.”
“Tapi, kalian berdua jangan macem-macem.”
“ Ya enggalah” jawab aku dan Rayhan kompak dan saling bertatap.
“Hahahaha.. bu, gimana kita jodohin aja sekarang kayanya mereka lengket banget tuh!”
“Hahaha iya ya! Dah kaya Perangko sama lem berduaan melulu.”
“Bisa kali PJ(Pajak Jadian).” Teriak Nisa yang dari tadi diam.
“ Oke, kalian semua aku traktirin mie ayam+bakso.” Ajak Rayhan.
“Asik dah ini baru Anak ayah.”
“Hehehe.. iya donk! Tapi, bayar sendiri-sendiri ya!”. “Hahh kamu ini ayah kira beneran. Dah yuk kita berangkat. Nanti macet lagi.” Ajak ayah Rayhan.

Rumah Rayhan.
“Wahh, tante kamarnya bagus banget. Ini kan kamarnya khusus cewek.  Soalnya cat temboknya warna pink.”
“Ya, ini kamar untuk kamu. Tante bikin kamar ini khusus untuk kamu. Soalnya pasti kamu bakalan nginep disini.”
“Tante, tante baik banget makasih ya” aku langsung memeluk ibu Rayhan.
“Soalnya tante inget banget waktu tante sama om kerja, kamu selalu nemenin Rayhan dirumah. Dan kalau lagi ngambekkan ke rumah melulu. Udah yuk kita makan dulu.
“baik tante. Tante aku sayang sama tante.
“Tante, juga kok.”

Malam Hari.
“Raray, kamu kan udah ada motor kamu mau enggak nganterin aku pulang sekolah nanti.”
“Iya donk! Kan aku bakalan jadi calon suami kamu.” Ledeknya.
“Ihh, apaan sih?”
“Kamu ga mau nih aku jadi calon suami kamu?” Ray menggenggam tanganku dengan wajah polosnya.
“Iya, aku ga mau” aku melepaskan tangannya. “Tapi, aku maunya kamu jadi suami aku beneran ga mau jadi calon.” Aku mengalungkan tanganku di lehernya lalu cupp sebuah kecupan mendarat di pipi Rayhan.
“Lagi donk! Sebelah sini.” Rayhan menunjuk ke arah bibirnya.
“Yeee, itu tidak boleh!” aku langsung berlari menuju kamar dan melambaikan tangan.
 “Selamat malam Rayhan sayang”. Kataku dengan sedikit manja
“Malam beb.” Rayhan langsung mengeluarkan senyuman mautnya.
Rayhan kembali kekamarnya. Dan lampu sudah dimatikan semua. Kami semua mulai tertidur. Dan besok akan menjalani hari baru dengan mempunyai kekasih tampan seperti pangeran dan calon mertua yang baik hati.
Hidup ini benar-benar manis seperti gula dan sepahit jamu. Hidupku mungkin akan menjadi semanis madu yang melebihi manisnya gulu karena datangnya seorang pangeran dari kehidupanku yang dulu.
Thank you and See you

0 komentar on "Pangeran Kecilku dari Semarang"

Poskan Komentar

Pangeran Kecilku dari Semarang




    


    

CREATED BY :      

    
    

    

Pangeran Kecilku dari Semarang
Pagi yang cerah,tiba-tiba mendapatkan  keberuntungan yang kecil yaitu uang jajan tambahan. Hehehe......
Hai namaku Nandiati Putri. Bersekolah di SMKN 18 Jakarta. Kelas X PM 2, yang baru masuk tahun ini. Seperti biasa aku harus menunggu teman berangkatku Laras Setiasih.dalam perjalan ke sekolah . Ternyata, aku salah naik angkot. Sebenarnya bener D01, tapi sopirnya ini loh yang gaswat wat wat. Masa iya dia pagi-pagi dah marah-marah aja, Cuma gara-gara ada anak MTS yang kurang seribu rupiah. Ya, tapi dia berhak marah juga sih!.
                   
Di Sekolah.
Ternyata encing(sebutan nama satpam sekolah kami) sudah menyuruh cepat-cepat. Aku berlari sekuat tenaga dan untungnya masih keburu euy,, alhamdulillah ya, ga jadi di hukum dan dapet point  gara-gara terlambat 10 detik.
“Huuuhhh,,” keluhku. Masa iya tiap hari selasa aku selalu pas-pasan sih datangnya. Udah kelasnya lantai 3 paling pojok lagi. Ckckckck..
“bismillahirrahmani rahim alhamdulillahirabbilalamin.........” anak sekelasku memulai tadarus. Aku langsung berjalan cepat kebangkuku. Aku hanya bisa tersenyum jika ada yang memperhatikanku.
Tidak lama kemudian tadarus  pun selesai.
“eh, eh, tau ga  tadi aku liat cowok ganteng loh di sekat ruang BK” pamer Monika yang daritadi senyamsenyum sendiri.
“iya, aku juga liat, sumpah ganteng banget. Aku rasa mungkin dia bakalan pindah kesini.” Balas Dian.
“semoga aja dia dikelas kita.” Harap Agnes.
“mang siapa sih? Kok aku enggak liat deh!” jawabku dengan penuh keingin tahuan.
“siapa aja boleh” samber Nani.
“pokoknya ganteng, putih, tinggi, dan aku rasa dia anak orkay (orang kaya).” Dian berpendapat.
“maybe??” jawabku dengan berlagak sok tau.
Deng Dung Deng Dung “maaf untuk para siswa yang memulai pelajaran, dan mohon maaf bapak/ibu guru yang sedang mengajar. Pengumuman untu Nandiati Putri X PM 2 ditunggu Bu maulis di ruang BK. Terimakasih.” Suara dari speaker sekolah.
Hadouhhh apa lagi coba? Kok pake ruang BK segala sih!!
“hayo loh Nan, diabisin bu maulis loh!” ledek Agnes.
“apaan sih, nes!”  keluhku.

Arah ruang BK.
Bismillah..
“permisi bu, assalamualaikum.” Tegurku.
“ayo, masuk Nandiati” jawab bu maulis dengan senyuman.
“ada apa bu, ibu memanggil saya.” Jawabkudengan sedikit gelisah.
“oh, tidak apa-apa, ini ada yang ingin bertemu dengamu nan.” Masih tetap tersenyum.
“siapa bu??” tanyaku heran.
“temui saja sendiri, ibu mau mulai mengajar di kelasmu, nan.”

Ruang BK sunyi dan sepi.
“maaf, permisi.” Sapaku perlahan tapi pasti.
 Tiba-tiba yang keluar seorang laki-laki seumuran denganku, seeperti yang digambarkan oleh Dian. Putih, ganteng, tinggi. Hatiku seperti melompat-lompat, saking senangnya aku tidak tahu harus berbicara apa. Kemeja biru, celana hitam, dan gaya rambut seperti dae woong(lee seung gi pemeran tokoh di serial drama korea).
“oh, jadi kamu yang namanya Nandiati itu, atau aku panggil Nanda saja.” Pria itu berlagak sombong. Tangannya kearah daguku. Sambil memiring-niringkan daguku.
“oh, iya aku Nandiati, panggil Nanda juga gapapa. Tapi, kamu siapa? Kok tau namaku!” tercengang.
“aku Rayhan Lorensyah putra bungsu dari kelurga Letnan Pramuji Lorensyah.” Sombong.
“tapi, kok aku ga tau ya! Oh, ya lepaskan tanganmu ini. Dan untuk apa kau mencariku?” bentakku sambil melepaskan tangannya.
“cantik tidak, belagu iya. Hmmm mending cewekku yang ada di Bandung dah!” meremehkanku.
“oh, sekarepmu lah. Aku memang tidak cantik, tapi hatiku lebih cantik daripada kau.” Balasku.
“keren juga nih cewek. Baru kali ini ada cewek yang berani bentak aku. Aku kesini, disuruh ayahku untuk bertemu kau. Kata dia , kita berdua dijodohkan sewaktu masih bayi dan kata dia juga aku harus 1 sekolah denganmu. Dan dia juga bilang sementara ini aku disuruh menginap dirumahmuu kalau kita dijodohkan?? Dan kau selama 2 hari.” Jawabnya panjang lebar.
Aku tercengang mendengar perkataannya itu. Ganteng sih ganteng tapi sifatnya jelek amat yah!.
“terus, kau mau kalau kita dijodohkan?” tanyaku dengan gugup.
“ aku sih ga mau lah, mending juga dijodohin ama pacarku yang ada di Bandung.”
“yaudahlah terserah, aku ga ikuttan. Sekarang aku mau ke kelas. Kau mau ikut?” ajakku dengan sedikit jengkel atas perkataannya itu.
“oh, baiklah.ladies i’m coming.” Jawabnya dengan belagu.

Di kelas .
“permisi bu”
“ya, silahkan masuk. Nan.” Bu malis.
Semua anak memandangku, bukan bukan bukan, bukan memandangku tetapi memandang Rayhan calon suamiku. Jiahhh.. seluruh anak dikelas menatap kami berdua dengan penuh tanda tanya. Mungkin Rayhan bakalan jadi orang populer melebihi Ka Reno.
“maaf bu, saya memakai baju ini. Tetapi saya mau lihat cara pengajaran di sekolah ini. Jadi, mohon izinkan saya untuk mengikuti pelajaran anda, saya sudah menghadap ke kepala sekolah dan beliau tidak keberatan”  jelasnya panjang lebar.
“oh, baiklah. Kamu duduk di samping samsul”. Bu maulis dengan ramah menyuruh Rayhan duduk.
“terimakasih, bu” senyum maut Rayhan dikeluarkan.
“Hwaaaa....” kaguman para siswi dikelas melihat senyuman mautnya Rayhan.
Mulailah kembali pelajaran.

“siapa nan?” tanya agnes.
“rayhan” jawabku dengan santai.
“siapa kamu? Sodara” tanya kembali agnes.
“entahlah. Dah ah aku mau dengerin bu maulis.” Aku mengalihkan pembicaraan.

Tettttttetttt... bel pelajaran pertama selesai.
Semua anak perempuan mulai heboh sendiri memerhatikan Rayhan. Sedangkan Agnes hanya senyam-senyum melihat wajah rupawannya Rayhan. Tiba-tiba Rayhan berdiri di depan kelas. Dengan gagah dia memperkenalkan diri.
“Hay, semua nama saya Rayhan Lorensyah
Saya pindahan dari Bandung . salam  kenal.” Sapa rehan
“hay juga” sapa Vanny, Agnes, Monika, Nurul, Shintia dan Amel suara mereka yang begitu keras.
Rayhan kembali ketempat duduknya dengan sikapnya yang dingin. Anehh?! Pikrku. Tadi di ruang BK dia bersikap angkuhnya tetapi kenapa dikelas jadi pendiam gitu.
“Bismillah 3 kali, bisa kali. Bismillah makan tape, bisa kali nomor hape.” Teriak Vanny.
“apaan sih gaje banget” batinku dengan sedikit cemburu.
Kukira dia bakalan cuek, eh ternyata malah ditanggepin dengan senyuman. Parah parah parah.

Istirahat pertama
“Hhhhh,,, bisa-bisanya ini hari aku kena sial sedahsyat ini. Mimpi apa ya tadi malem??” pikirku.
Didalam kelas hanya ada kehebohan. Yang biasanya kelas Xpm2 setengah sunyi, menjadi riuh gara-gara anak baru itu. Semua anak teragum melihat ketampanannya. Banyak anak dari kelas lain ikut-ikutan kekelasku juga demi Rayhan. Emang sih mukanya setampan pangeran tapi hatinya beuhh ada 2.
Ketika aku ingin kembali kekelas, tempatku diduduki anak dari kelas lain terpaksa aku hanya bisa mengeluh.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang seorang pria setampan dae woong sambil menebarkan senyuman. Aku hampir saja terlarut dengan senyumannya itu. Tetapi aku tersadar bahwa itu hanya palsu, bohongan yang istilahnya dengan kata bulsyit.
“maukah kau mengantarkan aku keliling sekolah ini” pintanya dengan lembut.
“y.. ya!” jawabku dengan gugup, semua anak perempuan menatapku sinis. “Tapiii...”
“gimana kalau denganku saja, lebih seru loh!!” sambar Vanny segera ia menghampiri Rayhan.
“ahh, tidak usah aku ingin bersama Nandiati saja. Terima kasih ya.” Balasnya dengan senyum lagiii.
Aku dan Rayhan menuruni tangga. Hampir setiap anak perempuan memandangi Rayhan aku hanya bisa diam sambil menunduk. Lalu kutarik dia kepojokkan ke tempat yang menurutku agak sepi.
“Hay, kau! Kau punya berapa kepribadian sih! Pakai segala tebar pesona ke hadapan cewek-cewek dikelas lagi. Sekarang aku mau ke perpustakaan saja. Kau terserah mau ikut atau tidak itu urusanmu.” Jelasku.
“Ssttt... bisa tidak kamu jangan banyak bicara. Urusan ini kita selesaikan nanti. OK.” Jelasnya.
Hhh,, belagu banget sih itu orang, semoga aja waktu mama ngeliat dia langsung diusir dah!

Bel masuk pelajaran terakhir.
“sudah ya kita akhiri pelajaran hari ini dengan alhamdulillah” terang Bu Isti wali kelas kami.
Ketika bu Isti keluar, seperti biasa kelas menjadi ramai kembali . Vanny langsung menyuruh samsul untuk pindah ketempatnya untuk beberapa menit.
“Rayhan, pulang sekolah ini kita jalan-jalan ya! Kamu kan orang Bandung, jadi pasti kamu ga tau seluk beluk tentang Jakarta donk! Aku tau kok  tempat yang asik buat nongkrong.” Vanny panjang lebar.
“maaf, tapi hari ini aku sedang lelah.” Jawabnya dengan sedikit lemas.
“Mmm, boleh minta no HP kamu ga??” pinta Vanny dengan gaya andalannya.
“yah, maaf  aku belum beli kartu baru yang khusus Jakarta.” Jawabnya dengan senyum lagi dan lagi.
“oh, yaudah deh! See you”  vanny beranjak pergi sambil kegirangan bisa berbicara dengan pria tampan itu. Aku rasa anak perempuan dikelas merasa iri pada vanny.
“eh, bilang Laras kalau aku pulang duluan. Ada urusan mendadak.” Pesan singkat yang kutitipkan oleh Romise.
Bel pulang.
Di rumah..

“Aduhh, harus bilang apa nih ke Mama kalau dia ngeliat cowok gaje(Ga Jelas) ini” batinku.
“Assalamualaikum” teriakku dari luar rumah tapi tak ada jawaban,
“Asssalamualaikumm..” bantu Rayhan.
Aku langsung melangkah masuk ternyata Mama lagi tak ada dirumah. Aku langsung kekamar dan menutup pintu. Ku biarkan Rayhan sendiri di ruang tamu. Setelah selesai ganti baju aku mendekati Rayhan.
“mau makan?” tanyaku sedikit jutek.
“tidak usah, terimakasih.” Jawabnya dengan lembut.
“yasudah”.
Tiba-tiba Mama datang lewat pintu belakang rumah, ia menghampiri kami berdua yang sedang menonton TV.
“eh, ada Rayhan. Kapan datang?  Dah makan? Tadi, ayahmu juga menelpon. Katanya kamu mau pindah kesini ya.” Tanya mama panjang lebar.
“Mama kenal dia?” tanyaku heran.
“ya, kenal lah. Ini kan Rayhan teman kecil kamu waktu tinggal di Semarang. Rayhan anaknya pak Lorensyah.. masa kamu gak ingat sih? Mama kira kamu dah kenal.”
Aku makin bingung atas jawaban mama, tentang teman kecil dan Semarang. Sedangkan Lorensyah orang Bandung.
“Iya, Rayhan mau pindah disini, katanya papa dimutasikan ke Jakarta. Jadi, kami sementara akan tinggal di Jakarta hanya beberapa bulan.” Jawabnya dengan sopan.
“iya, tante juga dengar dari Ibu kamu, dia bilang kamu sekeluarga akan menetap di Jakarta untuk sementara. Kapan ayah kamu kesini?? Kamu udah bawa baju untuk menginapkan?” tanya mama.
“Hari Kamis tante, Rayhan udah bawa baju beberapa kok. Yang lainnya nyusul bareng mama.”
“Oh, yaudah kalian makan dulu sana. Tante mau kebelakang dulu.”.
“ya, terimakasih tante.”

Ruang makan.
“Rayhan, aku bingung deh apa yang tadi kalian bicarakan. Bukannya kamu bilang kamu dari Bandung ya? Dan bukannya kamu bilang kesini untuk dijodohkan?” tanyaku.
“dah makan dulu. Ga baik makan sambil bicara.”
Hhh.. ada yang aneh nih!!

Malam Hari
“Haduhh, gambarnya susah banget lagi. Apusan donk!” pintaku ke Abel.
“Sini aku bantu gambarin.” Rayhan mengambil buku gambarku.
“Rayhan, aku masih enggak ngerti nih!” omelku.
“soal yang mana? Nomer berapa?”  tanya Rayhan.
“Bukan tentang pelajaran tentang kamu yang tadi sore itu.”jawabku dengan mengeluh.
“jadi, kamu masih ga tau. Perlu aku bantu untuk mengingatkanya?” Rayhan menatapku dengan senyuman mautnya.
“Mmmm.. iya!” jawabku dengan sedikit gugup.
“waktu kecil kita sering bersama ke kebun pak Suryo untuk mengambil kacang-kacang. Aku selalu dituntunmu ketika ke kebun itu. Kau selalu bersemangat ketika bertualang. Kau selalu berada disampingku ketika ayah dan ibuku tidak ada dirumah. Apa kau sudah mengingatnya?”
“Aku ingat kejadian itu. Tapi aku tidak begitu ingat.. Ceritakan yang lain.”
“Ketika ayah dan ibuku tak ada dirumah aku sering menginap dirumahmu. Kita setiap malam melihat bintang-bintang yang bertebaran. Lalu, kadang kau juga menginap dirumahku. Dan dulu kita mempunyai rumah pohon yang berada didekat ladang. RAYNA HOUSE itu adalah nama rumah pohon yang kau beri.” Jelasnya.
Mmmm.. aku berfikir sejenak aku tau nama itu. Oh tidak, aku ingat aku ingat. Itu adalah rumah pohon yang aku buat dengan Raray kecil. Raray pangeran kecilku. Tapi.. kenapa dia tau semua itu. Atau dia jangan-jangan Raray kecil itu. Raray=Rayhan.
“jangan-jangan kamu ...”
“ya, aku Raray kecil yang selalu ketakutan ketika ke kebun.” Jawabnya dengan santai.
“Benarkah kau Raray kecil. Tapi, Raray kan tinggal di Semarang bukan di Bandung. Dan Raray tidak berkepribadian ganda. Dia juga tidak sombong seperti kau.” Jawabku dengan belagu.
“Baiklah bagaimana kalau ini, pasti kau tidak akan percaya.” Tiba-tiba dia menarik tangan ku lalu mencium pipiku. Muachh,, kau ingat ciuman pangeran kecil Raray kan. Bisiknya perlahan.
Hwuaa,, aku terjatuh di pelukannya Rayhan, tapi ia hanya tersenyum. Aku sadar bahwa ia benar-benar Raray kecil. Raray sang pangeran kecilku
“tapi, kau bilang kau orang Bandung.” Pipiku merona memerah seperti buah strawberry.
“Hehehe,, sebenarnya aku berbohong. Aku hanya ingin mengerjai dirimu. Kau lucu sih kalau sedang marah.” Jawabnya dengan tawa geli.
“jadii,, semua itu bohong?” tanyaku.
“yupz, begitulah! Hay, Nanda sang putri kecilku. Apa kabar?” senyuman itu kembali muncul di wajahnya.
“Hahhhh, aku tertipu. Nyebelin nyebelin nyebelin ahh. Ga lucu tau. Parah nih!” Aku menepuk-nepuk pundaknya. Aku menghujani pukulan kepundaknya. Sambil meneteskan air mata. Sebuah kerinduan dari sebuah kenangan sekarang menghampiriku dengan tiba-tiba iya, tersennyum. Lalu dia memelukku erat. Dan dia berbisik ke telingaku. “selama 9 tahun aku selalu mencarimu. Aku rindu tau denganmu apa kau juga begitu rindu aku?” bisiknya. Aku hanya tersenyum.


Pagi hari.
“Rayhan cepat, nanti terlambat nih!” teriakku.
“ya, sebentar.” Rayhan keluar kamar dengan baju sekolahnya yang baru.
“Ma, Nanda berangkat ya! Assalamualaikum”
“Eh, sarapan dulu.”
“udah, bawa bekal kok.” Teriakku sambil menarik tangan Rayhan sang pangeran.

Di Sekolah
“Nan aku lapar nih! Tadi, disuruh sarapan dulu juga.” Keluhnya.
“maaf, ya pangeran Raray soalnya tadi aku lagi buru-buru.”
“Hadohhh.. perutku lapar. Jadi lemas nih!” dia mengeluh sambil menarik tanganku kegenggamannya.
“Hhh, dasar pangeran ga pernah berubah ya selalu genggamin tanganku melulu.” Jawabku dengan canda.

Depan kelas.
Aku melepas tangan Ray agar anak-anak sekelas tidak ada yang curiga. Aku bersikap seperti biasa. Lalu, sedangkan Ray kembali menjadi cowok cool. Aku dan Ray menjaga rahasia ini baik-baik. Dari awal pelajarn sampai pulang sekolah aku dan Rayhan berpura-pura seperti biasa. Sebenarnya, aku tidak mau seperti itu. Aku takut Rayhan bisa jatuh ke tangan perempuan lain.
     “Ray, kamu udah punya pacar belom?” tanya Vanny.
     “udah” jawab Ray dengan santai. Aku dan cewek-cewek lainnya tersentak.
“si.. siapa? Anak mana?” tanya Vanny dengan sedikit kecewa.
“Mmmm..” dia menengok ke arahku. “seorang gadis biasa, yang sedikit bawel, dan lucu. Dia..”. jawabannya terhenti ketika ada guru datang kekelas. “ Jangan- jangan aku lagi” pikirku. Tapi, Rayhan kan udah punya pacar di Bandung. Mungkin dia.
Pulang Sekolah.
“Ray, aku mau tanya sesuatu.” Tanyaku dengan lesu.
“tanya aja?” jawab Ray.
Aku dan ia berhenti disebuah taman kecil dekat sekolahan kami.
“pacar yang kamu bilang di Bandung itu. Apakah kau masih berhubungan dengannya?” tanyaku.
“iya, aku masih sering kontak-kontakkan ko dengannya.” Jawabnya dengan lebih santai.
“oooooooo” aku ber O panjang dengan sedikit menyesal menanyakan hal itu.
“Mmmmm kau suka padaku ya?” tanya Ray.
“Ha? Tidaklah. Aku juga dah punya pacar kok.” Aku terbelalak.
“Aku tau kau berbohong. Aku tau kau suka kan padaku.” Dia menggodaku.
Aku hanya diam sambil berjalan ke arah bangku taman. Rayhan menarik tanganku lalu, menarikku ke arah kolam ikan yang tak jauh dari taman.
“Nan, sebenarnya aku..” bisik Ray perlahan. “ AKU BERBOHONG KOK TENTANG PACARKU YANG ADA DI BANDUNG. Hahahaha..” teriak Ray.
“RAYHANNNNNN... AWAS KAU RAY. KU HABISI KAU.”  Aku berlari mengejarnya. Dan ia tertangkap.
“Aww, sakit” Ray kesakitan mendapat beberapa cubitan dan pukulan dariku.
“biarin weekk. Kau sih usil banget.” Ledekku.
“Aduhh, Nan beneran sakit banget nih! Aduuhh” rintih Rayhan.
“ahh, bohong aja juga.” Cuek.
“beneran Nan. Aww. Sakitt” Ray pingsan.
“Ray.. Rayhan, Rayhan ga lucu bangun donk!”
Cupppmuach. . sebuah kecupan mendarat  di pipi kananku. Ray kembali berlari.
“Ray.. benar-benar kau ya!” Aku tercengang, kaget, dan senang. I’m falling in love with him. I love my prince.
Rumah.
“Ray, besok kamu pindah ke daerah mana? Jauh dari rumah aku ga?” tanyaku.
“Entahlah, kenapa?” tanya balik Ray.
“Gapapa, nanya aja.” Jawabku.
“kamu ga ingin aku pergi ya?”
“yee, siapa bilang, aku malah kegirangan kamu pindah kok!”
“yakin? Tapi wajah kamu kurang meyakinkan tuh kalau kau merelakan aku pergi.”
“ yakin lah. terserah deh!”

“Rayhan.. ada telpon dari ayahmu nih!” panggil mama.
“baik, tante.”
Sebenarnya aku tak rela jika ia pergi. Tapi, aku tidak berhak untuk mengekangnya. Hhh,, apa aku harus jujur saja kepada Ray supaya dia tidak pindah hari esok. Tapi, bukannya bagus kalau ia tidak ada disini, aku jadi tidak perlu menunggunya tiap pagi.  Aku Bingung nih!!
Azan magrib berkumandang. Kami segera melaksanakan shalat magrib.

KAMIS PAGI.
“Hoamm,, aduh masih ngantuk nih!”
“ sepi, juga ya ga ada Rayhan dirumah.” Pikirku sembaring ke arah kamar mandi.
“Hayoooo.... Kamu kangen aku ya!” suara Ray mengkagetkanku.
“Hwwaa.. apaan sih Ray bikin orang jantungan aja! Kamu bukannya pindah kemaren malam ya?” kaget.
“Lah, kata siapa? Buktinya aku ada di depan kamu.”
“trus, tadi malam kamu kemana? Pake bawa tas ransel? Dan bukannya ayah kamu dah datang ya!” tanyaku.
“oh, itu aku  ke rumah Samsyul. Aku kesana diajak belajar bersama. Ada Vanny, oki, monika, juga kok. Kemaren aku mau ngajak kamu. Eh, kamu keliatannya lagi sibuk yaudah aku ga jadi ngajak kamu.” Jawabnya panjang lebar.
“Trus ayah kamu ngapain nelpon?”
“dia bilang katanya hari Minggu baru bisa kesini. Soalnya, masih banyak urusan di Semarang.”
“Benarkah?” tanyaku dengan girang.
“Benar.” Jawabnya heran.
Tanpa sadar aku memeluknya, tanpa sadar aku langsung memegang pergelangan tangannya sambil berputar-putar. Lalalala hatiku benar-benar gembira mendengar berita sebaik ini. Lagu Losing My Mind_ lee seung gi bermain dengan sedikit acoustic di otakku. Ooooo ya! Ahh tunggu dulu ada apa denganku? Stop! Stop! Stop!
“Maaf, aku harus segera mandi. Minggir donk!” bentakku. Sambil melepaskan tangan Raray.
Aduhh, kok aku jadi reflek gitu sih! Gimana nanti di sekolah nih? Pasti iya bakalan mikir yang aneh-aneh nih! Parah Parah Parah.

Sekolah.
“Hhhh,, untung dia bersikap seperti biasa.”
“Nan, liat Vanny deh. kayanya dia udah mulai deket sama Rayhan tuh!” Agnes menunjuk ke arah Vanny
“Ooh, biarin aja itu hak Rayhan kok mau ngobrol sama siapa aja. Pokonya itu urusannya dia.”
“mau ke perpus?” ajakku ke Agnes.
“enggak ahh males.”
“pengumuman besok diliburkan karena para guru ingin rapat.” Ketua kelas memberikan pengumuman. Anak-anak bersorak sorai kegirangan.
“Nanda. . . mau kemana?aku ikut donk!” Panggil Rayhan.
“Ke ruang Perputakaan. Mau ikut?” semoga aja dia ga mau. Batinku. “iya aku ikut” jawab Ray.
“Apa? Kenapa dia mau sih! Huh. Seharusnya tidak ku ajak tadi”. Harusnya tidak usah kuajak tadi. Hhh batinku menyesal.
Rumah Malam hari.
“Nan, keluar yuk!” ajak Rayhan.
“kemana?” tanyaku.
“jalan aja cari angin. Besok libur ini kan”.
“baiklah, tunggu sebentar. Ma... Nanda ma Rayhan keluar ya.”
“kemana? Besok sekolah kan?” tanya mama.
“jalan-jalan aja. Besok libur kok.”
“yaudah, jangan mala-malam ya!”
“sip Mom.”

Lapangan Bola.
“Nan, duduk disini dulu yuk! Suasananya bagus nih!”
“Apanya yang bagus? Serem, sunyi, gelap gini juga. Pulang yuk! Bulu kudukku berdiri nih!” ajakku.
“Enggak ah! Kita disini dulu. Ayoo ikut.” Ajak Ray.
“Huhhh..” aku pasrah.

“Nan, coba lihat ke atas deh!”
Perlahan aku mendongak ke atas. Woww, bintang-bintang bertaburan sangat indah. Romantis banget suasananya. Rayhan aku makin suka kamu nih! Aduhh, hati aku ga karuan nih!.
“Woy, nan jangan bengong donk!”
“hehehe, abisnya indah banget sih!”
“kamu masih inget waktu kecil kita selalu tiduran di halaman bela-belain buat liat bintang”
“iya, aku inget kok.” Seandainya waktu berhenti aku ingin seperti ini terus Ray.
Pagi hari.
“Ayoo, semua bangun-bangun. Hari ini kita picnik” teriak mama.
“aduhh, kenapa mendadak seperti ini sih! Males ah!” keluhku.
“Nanda, bangun!” bujuk Abel.
“iya-iya bentar donk!”
Aku beranjak dari tempat tidurku. Dan menuju ke arah kamar mandi. Ternyata papa, mama, abel dan Ray sudah pada siap-siap. Dan ada Nisa juga. Kok, aku ga tau sih tentang rencana Picnik sih!.

Perjalanan
Mama dan papa di depan. Sedangkan abel di ditengah bersama Nisa (sepupu kami). Aku duduk dibelakang dengan Rayhan.
“Ma, kita mau kemana sih?” tanyaku.
“maunya? Pantai atau tempat perkemahan?” tanya balik mama.
“kok, mama nanya balik. Serius nih!”
“mama, ga tau soalnya mama Cuma diajak sama seseorang. Katanya tempatnya bagus banget.”
Hhhh, kita sebenarnya mau kemana sih!

“Nan, bete nih!” bisik Ray.
“aku juga.”
“Dengerin lagu aja yuk!”
“yah, musik di HP aku kebnyakan korea and yang aku yakin kamu ga suka.”
“gapapa kok.”
“Yaudah.” So sweet. Kami berdekatan agar earphone yang kita pakai tidak putus.
“Ray aku mau tanya donk!”
“Apa?”
“kenapa kamu ga kasih no HP kamu ke Vanny?” tanyaku dengan gugup.
“memangnya kamu mau, kalau aku kasih nomer aku ke Vanny?” tanya balik Ray.
“enggak mau lah. tapi, alasan kamu nolak ga kasih tau no kamu ke dia apa?” jawabku santai.
“Mmmm,, kamu pasti tau jawabannya kok.” Rayhan langsung mengeluarkan senyuman mautnya.
Tiba-tiba Rayhan menggenggam tanganku, lalu tidur di pundakku. Rayhan kamu kok manis banget sih kalau lagi tidur. Huhh, pantesan kalu anak cewek liat kamu pasti pada heboh sendiri. Kamu ganteng banget sih! Haha pangeran dari Semarang.
“Raray, kamu tidur beneran ya?”
Tak ada jawaban.
“Raray, kamu kok ganteng banget sih dah gitu baik. Tapi, sayang banget ya kamu dah punya pacar. Seandainya kita beneran dijodohin, aku sih gapapa soalnya sama kamu. Walaupun kamu hanya anggep aku Cuma sekadar teman kecil aku. Tapi, aku senang banget udah bisa ketemu kamu lagi. Hehehe.. jadi, inget waktu kecil dulu.” Bisikku. Kira-kira Ray dengar ga ya? Tapi, dia kan lagi tidur pulas.

Tempat tujuan.
“Nan, bangun dah sampe nih! Kaki aku pegel tau.” Bisik Rayhan ditelingaku.
“Mmmm.. hoamm. Udah sampe ya?” tanyaku.
“iya, nih baru sampe.”
“Mmm.. Hwaa.. kok aku jadi tidur di pangkuan Ray sih! Bukannya tadi Ray yang tidur ya?” Kaget.
“Ha? Udah ah nanti aja bahasnya, kita keluar dulu sumpek nih!”
“dih, kok jadi aneh gini. Jangan-jangan tadi aku bermimpi lagi.”

Perkemahan
“Hwaaa.. sejuk banget. Pohonnya juga rindang-rindang. Nyaman banget tempat ini”. Kataku sambil mengagumi sekitar.
Dari kejauhan ada seseorang ibu-ibu melambaikan tangannya ke kami.
“Ibu..” teriak Rayhan. Sambil melambaikan tangannya.
“Itu mamanya Rayhan ayo kita susul.” Ajak Papa.

“Hay,, Nanda! Sekarang kamu sudah besar ya! Tinggi dan cantik lagi.” Ibu Rayhan memelukku.
“oo hay tante” sapaku sambil membalas pelukannya.
“mana suamimu?” tanya papa.
“Oh, dia lagi mencari kayu bakar. Bentar lagi juga ia balik. Oh, ya! Maaf sudah merepotkan selama Rayhan tinggal disana.”
“Oh, engga kok!” jawab mama.
“maksud mama enggak salah lagi ngeropotinnya kan?? Hahahaha” ledekku. Aku, abel, nisa, dan tante tertawa.
“Nandaa awas kamu ya!” wajah Rayhan kesal.
“weee :P sini kalau bisa tangkap aku.” Ledekkuku ke Rayhan sambil berlari.

Waktu aku berlari tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Ternyata bapak-bapak dengan tubuhnya yang gagah seperti tentara. Ia membawa tumpukan ranting.
“Ma.. maaf.. om aku tidak sengaja.”
“ahh, tidak apa-apa kamu bisa berdiri sendiri? Sini saya bantu.”
“Hahaha kualat tuh makanya jangan suka ledekkin orang! Akhirnya kena batunya kan.” Ejek Rayhan.
“Rayhan kamu ga boleh begitu, bikin malu saja. Cepat bantu gadis manis ini.” Bentaknya kepada Rayhan.
“ayah? Ah, siap yah!”Rayhan membantuku berdiri. “A..aa. A yah?” tanya ku sambil tergagap.
“ Ayo Nan kubantu berdiri. Itu kan ayahku kau lupa?.”
“ bukannya ayah kamu dulu ada kumisnya ya?” tanyaku.
“memang tapi itu dulu. Sekarang dia jadi tampan kan?”
“i..i..iiya maaf ya om.”
“Iya, gapapa kok. Boleh saya tau nama kamu siapa? Pacarnya Rayhan ya?” tanya nya.
“Ahh, ayah ini Nanda yah. Masa ayah ga kenal, ibu saja langsung mengenalnya yah!” jawab Rayhan.
“iya, saya Nanda. Salam kenal.”
“Nanda? Nanda?” mengingat-ingtat sesuatu.
“Iya, ayah NANDA.”
“Ohh, ya! Nanda kecil yang selalu ngajak kamu ke kebun itu. Dan selalu ikut ayah memancing ikan?” ayah Ray mengingatnya.
“Iya, om itu saya.”
“Wahh, kamu sudah besar ya! Manis sekali kamu.”
“oh, makasih om. Om juga tambah tampan.”
“Ahh, kamu bisa aja. Dah yuk kita susul mereka semua.” Ajak om.
“Eh, nanti malam kita 1 tenda kan?” tanya  Rayhan.
“Yee,, pengen banget. Sih! Aku sih ogah weee.. :P”
“ayolah!”
Malam Hari.
Suasana malam yang dingin dan sejuk menjadi hangat oleh api unggun dan kehangatan kita bersama. Mama memotong sosis untuk kita bakar dan tante sedang memasak air panas. Sedangkan abel bermain dengan Nisa, Ayah dan Om bermain catur. Rayhan...mmm dia bermain gitar di depan tendanya.
“Raray.. lagi apa?” tanyaku sambil berjalan menuju ke arahnya.
“Lagi main gitar, Nanda mau coba?” tanya Ray.
“Eh, aku engga bisa. Rayhan, aja yang main aku dengerin.”
“yaudah, mau request lagu apa?”
“apa ya? Terserah deh!”
“Fall For You dari  Second Serenade.”
“sipp.”
“Ayo semua kita mulai acara bakar-bakarnya.” ajak Mama.
Kami semua makan dengan lahapnya. Dalam beberapa menit  ayah Ray sudah KO. Lalu, disusul Nisa dan Mama. Dan seterunya sampai aku dan Rayhan yang bisa memaknnya sampai habis. Ketika aku dan Ray sedang asik makan, Papa dan ayahnya Rayhan berbicara mengetahui sesuatu tentang kepindahannya.
“sudah menemukan rumahnya, pak?” tanya papa.
“sudah!keadaan rumah udah rapi.  Tinggal ditempetin langsung aja. Ayo sering-sering main ya!” Ayah Ray menepuk bahu papa.
Pikiranku mulai kacau, jika Rayhan tidak tinggal dirumahku. Pasti, ia bakalan punya teman perempuan. Aduhh! Ray kan ganteng pasti aku bakalan kesaing sama cewek lain nih!
Tengah malam.
“Aduhh, ga bisa tidur nih!” aku menuju keluar tenda.
“api unggunnya kok belum dipadamkan sih! Jangan-jangan masih ada orang diluar.”

“RAY?? Ngapain kamu disitu, belum tidur?”.
“Keliatannya udah belom? Sini donk temenin aku, say.”
“Jiahhhh, Say?? Kamu kok belum tidur?”
“Lah kamu sendiri kenapa belum tidur?”
“Malah balik nanya. Aku enggak bisa tidur nih!”
“Pasti kepikiran tentang yang ayahku bicarakan tadi ya?”
“Dihh! Bukanlah aku ga bisa tidur tuh gara-gara ...” menghela napas. “gara-gara aku takut gelap”.
“Oowh. Yaudah sini say sama aku aja! Aku temenin sampe pagi.” Genit Rayhan.
“Say? Apaan sih genit amat! Kamu sebenarnya punya kepribadian berapa sih, aneh banget?”
“berapa ya? Mungkin 10?”
“Hmmm, pantesan tiap waktu berubah-rubah melulu sih! Hahahaha.. aku boleh duduk disitu ga?”
“Boleh donk! Masa buat pembantu sendiri ga boleh!”
“Rayhannn. Ihhh”. mencubit tangannya. “Awww.. iya-iya ampun deh nan!”
Srrkkkk Srkkkkkk Srkkkkkk
“Bunyi apaan tuh?” suasana menegang.
“Ga tau. Waahh apaan tuh gerak-gerak kearah sini!” tunjuk Rayhan.
“Ahh,, apaan sih? Ga lucu han.”
“bukan aku, tau. Jelas-jelas aku disamping kamu.” Jelas Rayhan.
Tiba-tiba ada sesuatu dari balik sema-semak yang bergerak sendiri. Keluarlah . . .
“Hwaaa..” teriakku yang terbangun oleh mimpi.
Apa mimpi? Aneh? Kukira tadi perasaan masih sama Rayhan kok.
“Eummm,, Ma, pa, Tante, Om? Pada kemana sih?” panggilku.
“Nisa, bangun donk!”
“aduhh, males ah!”
“Huftt!” keluhku.
“Hhhhh..” Menarik napas pajang-panjang. “Huhouhh.. Rayhan. Buka tendanya donk! Anterin aku.”
Tak ada jawaban.
“Rayhan aku buka ya!”
Tiba- tiba Rayhan menarik tanganku dan aku terjatuh di pelukannya. Wajah kami sangat berdekat.
Sungai
“Wahh, segar sekali airnya.” Aku membasuh wajahku.
“Ayo, kita memancing!” ajak ayah Rayhan.
“Ayo!!” seruku.
Kami semua memancing kecuali Ibu, Aku, dan kalian pasti tahu satu lagi siapa yaitu Ibu Rayhan (Hahaha.. pasti kalian mengira Rayhan kan? Salah!).
“Rayhan, pinjem donk! Gantian.”
“Nih, tapi cium dulu.” Ledeknya. Mereka semua tertawa.
“iya, nanti aku cium.”
“beneran?”
“iya! Tapi pake ikan mas ya nyiumnya biar puas. Hahaha.”
“Yahh, kirain beneran.” Keluh Rayhan “Tante, Rayhan boleh ga jadi menantu tante?” tanya Rayke mama.
“Tentu donk! Bukannya waktu kalian kecil ayah kalian menjodohkan kalian ya? Ayahmu ga ngomong?”
“Ngomong, tapi aku kira bercanda.  Jadi, aku boleh donk pacaran ma dia.”
“Tentu. Tapi, Nandanya mau atau enggak itu urusan kalian berdua.”
“Asik-asik dah! Thank you tante.” Mama dan tante hanya tersenyum
“ Apaan sih Ray?” kataku menyer ngitkan dahi.

Persiapan Pulang.
“Nanda, Mau ke mana,?”. Tanya mama.
“ke sungai sebentar.”
“awas nanti kamu kebawa arus, Rayhan tolong donk jagain Nanda sebentar.” Suruh mama.
“Sipp tante.”
Huahh,, kita akhirnya berpisah juga. Walaupun masih bisa ketemu di sekolah tapi ad yang kurang. Atau aku harus jujur kalau aku bilang suka aja ke dia. Pasti dia bakalan nolak lah, secara udah punya pacar dibandung. Aduhhh,, ribet bener sih!.
“Nan.. jangan bengong donk”
“Ah,, iya. Enggak kok.” Aku terbangun dari lamunanku.
“Kamu enggak pengen kita pisah ya?” tanya Ray
“yee, kata siapa GR kamu.”
“Aww,, sakit.”  Kakiku terjepit batu dipinggiran
“Aduhh kamu sih jalan ga ati-ati. Sini aku bantuin.” Rayhan mengambil batu dengan hati-hati.
“Makasih ya Raray. Aduh, perih banget nih!” Kakiku berdarah dan sedikit lecet.
“Aku ke tenda dulu ya, ngambil obat.”
“Ray, tunggu. Jangan tinggalin aku”. Kataku sambil mengeluarkan air mata.
“Kok, kamu nangis sih!” Ray mengusap air mataku. “Sakit banget ya! Aku gendong ya!”
“Enggak, aku enggak mau sendiri Ray.”
“Aku kan ke tenda doank! Kamu mau ikut? Sini aku gendong”.
“Bukan. Hiks hiks. Aku ga mau kamu pergi Rayhan” kataku sambil menggenggam tangannya.
“Iya, iya aku disini kok!”
“Iihh, maksud aku kamu ..” mengambil napas. “kamu kamu jangan pergi.”
“Aku enggak kemana-mana kok.” Ray memelukku sambil mengusap-usap kepalaku.
“Rayhan, itu mmm”
“ Apa?” tanyanya dengan lembut.
“Aduh bilang engga ya?” pikirku dalam hati. “itu Ray, aku aku aku....”
“Aku juga kok” rayhan menatapku.
“Emangnya kamu tau aku mau ngomong apa?” sambil mengusap air mataku.
“Yes, i know.”
“What?”
“ mmm I LOVE YOU kan?”
“ dihh. Bukan aku mau bilang kalau aku mau digendong.”
“Hahhh, kirain mau bilang itu”. Rayhan langsung membopongku dibelakang.
“Ray, tadi sebenarnya aku juga mau bilang itu sih!” bisikku.
“Mmm aku udah tau kok, kalau kamu suka aku.”
“Kapan? Kok bisa?”
“Waktu di mobil sama waktu malam-malam itu.”
“Jadi, kamu ga tidur? Dan itu juga aku ga mimpi donk!.”
“Yupz.”
“ Tapi, kok aku bisa ada di dalam tenda.”
“ Aku yang gendong kamu, tiba-tiba kamu tidur dipundak aku. Trus, aku gendong aja ke tenda.”
“Tapi..”
“Tapi, apa lagi” tanya Ray sambil menurunkan aku.
“Tapi, pacar kamu yang di Bandung gimana? Aku enggak mau lah jadi perusak hubungan orang.”
“Ha? Kamu masih percaya? Kan waktu di taman aku bilang kalau itu bohongan.” Ray mengusap kepalaku.
“Jadi, aku boleh donk jadi pacar kamu Ray?”
“Enggak!”
“Yah, kenapa?”
“Enggak. Maksud aku aku ga bisa nolak.”
“Yang bener?” tanyaku untuk meyakinkan. “iya sayangg”
Pulang.
“Tante, aku boleh enggak main ke rumah tante?”
“Boleh donk! Malah Tante udah siapin kamar khusu buat kamu.”
“Beneran tan?”
“ Iyaa” jawbnya dengan anggukan. “ Makasih ya Tante.”
“Ma, Nanda nginep ya di rumahnya Rayhann ya! please.”
“Ehh, jangan! Nanti mamanya Rayhan keropotan.”
“Please mama. Boleh ya?”
“Iya, tante izin’in Nanda ya! Kan nanti Nanda bakalan jadi mantunya Ibu.”
“Yaudah iya-iya.”
“Tapi, kalian berdua jangan macem-macem.”
“ Ya enggalah” jawab aku dan Rayhan kompak dan saling bertatap.
“Hahahaha.. bu, gimana kita jodohin aja sekarang kayanya mereka lengket banget tuh!”
“Hahaha iya ya! Dah kaya Perangko sama lem berduaan melulu.”
“Bisa kali PJ(Pajak Jadian).” Teriak Nisa yang dari tadi diam.
“ Oke, kalian semua aku traktirin mie ayam+bakso.” Ajak Rayhan.
“Asik dah ini baru Anak ayah.”
“Hehehe.. iya donk! Tapi, bayar sendiri-sendiri ya!”. “Hahh kamu ini ayah kira beneran. Dah yuk kita berangkat. Nanti macet lagi.” Ajak ayah Rayhan.

Rumah Rayhan.
“Wahh, tante kamarnya bagus banget. Ini kan kamarnya khusus cewek.  Soalnya cat temboknya warna pink.”
“Ya, ini kamar untuk kamu. Tante bikin kamar ini khusus untuk kamu. Soalnya pasti kamu bakalan nginep disini.”
“Tante, tante baik banget makasih ya” aku langsung memeluk ibu Rayhan.
“Soalnya tante inget banget waktu tante sama om kerja, kamu selalu nemenin Rayhan dirumah. Dan kalau lagi ngambekkan ke rumah melulu. Udah yuk kita makan dulu.
“baik tante. Tante aku sayang sama tante.
“Tante, juga kok.”

Malam Hari.
“Raray, kamu kan udah ada motor kamu mau enggak nganterin aku pulang sekolah nanti.”
“Iya donk! Kan aku bakalan jadi calon suami kamu.” Ledeknya.
“Ihh, apaan sih?”
“Kamu ga mau nih aku jadi calon suami kamu?” Ray menggenggam tanganku dengan wajah polosnya.
“Iya, aku ga mau” aku melepaskan tangannya. “Tapi, aku maunya kamu jadi suami aku beneran ga mau jadi calon.” Aku mengalungkan tanganku di lehernya lalu cupp sebuah kecupan mendarat di pipi Rayhan.
“Lagi donk! Sebelah sini.” Rayhan menunjuk ke arah bibirnya.
“Yeee, itu tidak boleh!” aku langsung berlari menuju kamar dan melambaikan tangan.
 “Selamat malam Rayhan sayang”. Kataku dengan sedikit manja
“Malam beb.” Rayhan langsung mengeluarkan senyuman mautnya.
Rayhan kembali kekamarnya. Dan lampu sudah dimatikan semua. Kami semua mulai tertidur. Dan besok akan menjalani hari baru dengan mempunyai kekasih tampan seperti pangeran dan calon mertua yang baik hati.
Hidup ini benar-benar manis seperti gula dan sepahit jamu. Hidupku mungkin akan menjadi semanis madu yang melebihi manisnya gulu karena datangnya seorang pangeran dari kehidupanku yang dulu.
Thank you and See you

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar

 

©KPOP FANFICTION - Powered By Blogger Thanks to Blogger Templates | punta cana dominican republic